Terhubung Dengan Kami

Bergembira Dengan Hoax

SerSan

Bergembira Dengan Hoax

Setiap orang berpotensi untuk memproduksi Hoax. Pilihannya ada pada kita sendiri untuk bergembira atau ikut terpancing ketika menghadapinya.

Vice memuat sebuah kolom “Can’t Handle The Thruth” dimana setiap minggunya mereka merangkum terhits atau yang paling banyak dibicarakan pengguna internet selama sepekan. Tujuannya tiada lain adalah membongkar fakta dibalik atau kabar bohong yang sedang ramai diperbincangkan. Alih – alih membongkar dengan serius seperti group atau fans page berlabel anti yang ada di media sosial. malah membongkar dengan penuh kegembiraan.

Semangat kegembiraan inilah yang jarang dimiliki oleh media belakangan ini, entah itu media mainstream atau media non-mainstream. Hampir semua media mewarisi semangat menegangkan, menghebohkan bahkan cenderung menambah kebisingan. Mungkin karena hampir semua media memuja traffic, hampir semua media mengejar traffic.

Hoax sendiri didefinisikan sebagai berita palsu, dari wikipedia saya dapatkan penjelasan bahwa berita palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Sama seperti ketika kita berbohong, berita palsu motifnya ada beragam. Mulai dari biar telihat hebat, hingga upaya membangun yang terstruktur, sistematis dan massif. Dampak dari berita palsu juga beragam, ada yang hanya berlalu lokal di warung kopi, hingga yang berlaku massif, seperti sebuah kelompok atau sebuah organisasi.

Baca Juga :   Ide Bisnis Lain buat Saracen

Saya teringat dengan sebuah cerita, seorang perempuan muda, sosialita pemula yang bersuamikan orang asing. Dia bercerita bahwa suaminya adalah orang kaya di inggris. Ceritanya suaminya adalah pemilik Harrods, sebuah pertokoan mewah di london. Dia juga bercerita kalau dia sering dijemput limousine kalau sedang berada di Inggris. Si pendengar ceritanya sendiri yang tahu cerita aslinya hanya senyam – senyum saja. Dia tidak membantah, atau bermarah ria dengan cerita yang dia tahu adalah sebuah kebohongan. Dia cuma menutup pembicaraan dengan bertanya. “berarti kamu saudarnya Al Fayed dong?”. Si mbak sosiallita malah bengong dan bertanya “siapa itu?”. Dijawablah dengan halus, “Lah, Al Fayed kan yang punya Harrods, yang kamu ceritain barusan”. Dan si mbak sosialita yang mencoba berbohong langsung ngeloyor pergi karena malu, dan si pendengar cerita kemudian tertawa dengan gembira.

Semangat inilah yang kini tengah memudar, semangat untuk tetap bergembira meskipun kita tahu kita sedang dibohongi. Semangat untuk tidak terburu – buru dalam menanggapi suatu hal. Semangat untuk tetap santai dan tidak “lebay” dalam menyikapi kebohongan.

Baca Juga :   Yang Indonesia Banget

Tidak bisa kita pungkiri, jaman sekarang adalah jaman yang serba instan. Kita terbiasa untuk apresiatif dengan segera. Melihat kondisi media sosial belakangan ini, sepertinya memang inilah yang terjadi. Kita tidak memberi jeda pada diri kita untuk tidak bereaksi. Suka, langsung klik tombol like dan atau share. Tanpa memberi jeda pada diri kita untuk bertanya, masuk akal tidak ya? benar tidak ya beritanya?

Hoax berbeda tipis dengan berita. Hoax mendasarkan pada pemelintiran fakta yang sebenarnya. Ibaratnya sebuah kebohongan, hoax berusaha membohongi kita dengan mencoba menyajikan data yang seolah – olah fakta. Semua orang berpotensi menjadi produsen hoax, begitu juga semua orang berpotensi menjadi produsen fakta atau yang lebih kita kenal dengan istilah jurnalis atau wartawan. Hoax bisa kita sampaikan dengan hal – hal sederhana yang ada disekitar kita. Misalnya saja ketika di sebuah perempatan jalan di depan rumah kita sering terjadi kecelakaan, kita bisa saja memproduksi hoax dengan mengatakan bahwa itu adalah perempatan angker kemudian menyebarkannya.

Baca Juga :   Mudik: Tradisi Lebaran Di Indonesia

Murahnya kuota internet dan mewabahnya ponsel pintar adalah salah satu faktor yang menyebabkan produsen hoax bak jamur dimusim hujan. Tapi, semakin bertambahnya jumlah produsen, tidak menambah kualitas dari hoax yang beredar. Kebanyakan hoax yang beredar belakangan ini justru tanpa mutu, malah terlihat tolol. Mirip seperti Maichi, ternyata hoax memiliki berbagai level kepedasan. Hoax yang paling pedas adalah hoax yang dirancang dengan bumbu – bumbu konspirasi sehingga didalamnya terdapat seni menerka kebenaran kabar tersebut.

Jadi, apakah kalian memilih untuk menjadi produsen atau pembongkar hoax, pilihannya ada ditangan anda sendiri. Hanya saja, kalau kalian memilih untuk menjadi produsen hoax, usahakanlah hoax itu adalah hoax yang pedas dan berkualitas. Agar tidak terlalu memalukan ketika terbongkar. Janganlah menjadi produsen hoax yang terlihat tolol, karena malunya jadi double, sudah terbongkar, terlihat tolol pula. Mari kita mengusung semangat “Make hoax great again”. Kembalikan hoax pada faedahnya, hoax yang berkualitas disajikan dengan terstruktur, sistematis dan massif.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ady Saputra

Suka kopi, suka nulis, suka musik, suka nonton, suka apa lagi ya? eh lupa, kadang suka membaca, ini kalau ada waktu luangnya.

Comments
Ke Atas