Terhubung Dengan Kami

Gagal Lompat Guling

MalMing

Gagal Lompat Guling

Sebelum memutuskan untuk berpacaran, hendaknya kalian berlatihlah melompat bantal guling

ini, si Dadab yang biasanya rajin ada di tempat tongkrongan datang terlambat. Ada yang berubah pada dirinya beberapa minggu ini. Dia mulai jarang nongkrong, terutama . Beberapa ini dia selalu telat datangnya. Beberapa teman mulai curiga dengan perubahan tingkah laku si Dadab.

“Rajin amat lu telatnya Dab”, kata saya menyindir si Dadab.

“Lagi ada urusan Tonk”, jawab si Dadab.

“Ah elu, urusan melulu, kaga jelas lu ah. Bilang aja lu baru abis ngapel”, jawab saya.

“Sok tau lu”, kata Dadab menghindar.

Sebenarnya, sudah ada yang pernah melihat si Dadab membonceng seorang perempuan, namanya Astiti, seorang pemudi desa sebelah. Astiti kebetulan tengah berlibur di kampungnya. Dia bekerja di Kota, di sebuah toko kelontong milik kenalan bapaknya. Menurut gosip yang beredar, si Dadab dan Astiti tengah berpacaran. Hanya saja, mereka masih menutupinya karena Astiti takut ketahuan sama bapaknya.

Si Dadab bukanlah pria idaman para mertua. Dia masih belum bekerja, meskipun sudah mencoba melamar pekerjaan kemana-mana. Oleh sebab kepenganggurannya inilah Astiti menutupi hubungannya dengan si Dadab. Takutnya, mereka akan dihalang-halangi untuk bertemu kalau ketahuan berpacaran oleh bapaknya.

Baca Juga :   Tiga Fungsi Suami Yang Baik Bagi Istri

Di pojokan, si Dadab duduk ditemani sebotol beer. Sayapun perlahan menghampirinya, sembari mengobati kepo yang ada pada diri saya.

“Udah nggak jomblo lagi lu yak?”, tanya saya memancing.

“Apaan sih lu Tonk”, kata Dadab mengelak.

“Udahlah, udah banyak yang tau kok. Lagian gue ngerti kok keadaan lu. Udah cerita aja, rahasia lu terjamin”, kata saya.

Si Dadab nyengir, sembari mengangkat botol beer dan menegaknya.

“Gue sebenarnya lagi galau Tonk”, kata Dadab.

“Lah, baru aja pacaran kok udah galau. Lu lagi berantem yak?”, tanya saya.

“Enggak sih, kita nggak lagi berantem, cuma, gue udah ngecewain si Astiti”, kata Dadab.

“Ngecewain gimana maksud lu?”, tanya saya sambil mendekatkan telinga mengisyaratkan kekepoan yang teramat sangat.

Si Dadab kemudian membenarkan tempat duduknya sembari memulai bercerita.

Malam minggu lalu, si Dadab diminta menjemput Astiti ke kota. Astiti ingin pulang kampung katanya. Alhasil, si Dadab berusaha mencari pinjaman motor kesana kemari. Untunglah ada si Mamat yang sedang jomblo. Jadi, motornya si Mamat nganggur ketika malam minggu itu. Dengan modal 50 ribu rupiah, si Dadab nekat menjemput Astiti ke kota.

Baca Juga :   Blackberry Tidak Mungkin Diproduksi Indonesia

Singkat cerita, Astiti kemudian dibonceng si Dadab untuk diantar ke kampung halamannya. Sepanjang perjalanan, mereka asik ngobrol berdua. Layaknya dua orang yang sedang kasmaran, mereka hanyut dalam obrolan dan tidak memperdulikan apapun yang terjadi di sekitarnya. Bahasa anak jaman sekarang, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak.

Lagi asik naik motor berdua, tiba – tiba ada angin yang agak kencang berhembus. Tertiuplah saputangan Astiti yang sedari tadi dipegangnya. Saputangannya tertiup hingga keseberang sebuah selokan yang agak lebar.

Sebagai laki – laki yang bertanggung jawab, si Dadab menunjukkan kecakapannya. Dengan tangkas dan berani, dia meloncati selokan tersebut dan mengambil saputangannya Astiti. Dadab telah membuat Astiti bangga dengan keberanian dan tanggung jawabnya. Saputangan tersebutpun diserahkan kepada Astiti, kemudian diikuti dengan pujian dan pelukan hangat dari Astiti sebagai rasa terima kasih. Dan merekapun melanjutkan perjalanan.

Haripun menjelang malam, ketika mereka tengah melewati sebuah perkampungan. Entah dari mana datangnya, tiba – tiba hujan lebat turun. Dengan segera si Dadab mencari tempat berteduh, karena dia tau  di motornya si Mamat nggak pernah ada jas hujan.

Cukup lama mereka menunggu tapi hujan tak kunjung reda. Karena itu mereka akhirnya memutuskan untuk . Tepat ditempat mereka berteduh adalah rumah warga. Si Dadab pun mengetuk pintu dan meminta ijin untuk . Dengan lapang hati, si pemilik rumah mengijinkan mereka berdua untuk .

Baca Juga :   Misteri Hilangnya Jam Tangan

“Maaf ya nak, kamarnya hanya tersisa satu”, kata pemilik rumah.

“Nggak apa-apa bu, kami berterima kasih sekali sudah diijinkan menginap”, kata Dadab yang kemudian disambut senyuman Astiti.

“Berhubung kalian bukan , maka kalian tidurnya dibatasin guling ya”, kata pemilik rumah.

Dadab dan Astitipun mengiyakan. Dan tidurlah mereka dengan nyenyak hingga pagi.

Pagi harinya mereka terbangun dan berpamitan. Tapi, pagi itu si Astiti malah cemberut dan terlihat jengkel. Si Dadab kebingungan karena dia nggak ngerasa berbuat salah apa – apa. Pelan-pelan si Dadab mendekati Astiti sembari bertanya.

“Kamu kenapa cemberut gitu dik?”, tanya Dadab kepada Astiti.

“Aku nggak nyangka mas, kamu yang kemarin dengan sigap dan berani melompati selokan untuk mengambil saputanganku, semalam nggak sanggup melompati guling”, kata Astiti sambil merunyut kesal.

Si Dadabpun bengong mendengar kalimat Astiti tersebut.

Mendengar cerita itu sayapun tertawa terpingkal-pingkal. Dadab... Dadab... betapa polosnya dirimu.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
An-Tonk

An-Tonk adalah singkatan dari Anak Tongkrongan, Dia adalah penunggunya Nongkrong.co

Comments
Ke Atas