Terhubung Dengan Kami

Ilus(tras)i Kesejahteraan Petani Padi

SerSan

Ilus(tras)i Kesejahteraan Petani Padi

Terkait ketahanan pangan. Petani itu penyedia bahan pangan, bukan mesin produksi. Kalau cuma menyediakan sarana produksi murah tapi mencekek hasil panennya dengan harga murah. Belanda juga bisa melakukan itu di periode tanam paksa

1982, Bude, biasa eyang putri dipanggil, menjual gabah kering giling seharga 230/kg atau Rp 23.000 per kuintalnya. Tidak tepat benar angkanya, tapi variasi harganya antara 225-230. Sekarang? Kalau acuannya HPP, ada di angka Rp 4.600 per kg. Ada perubahan(naik) harga sebesar 1.900% selama 35 tahun, atau rata-rata kenaikannya 54% per tahun. Apa kemudian petani menjadi sejahtera?

Anda cukup membayangkan saja, biarlah 'rumus Mat Dogol' memformulasikan paritas daya beli petani untuk anda. Secara kasar tentu saja gambarannya. Tetapi setidaknya itu penting untuk jadi landasan kita berpijak. Kita akan menginjak harga diri petani, atau meminta pemerintah untuk peduli kepada petani.

Ilustrasi berikutnya. Di tahun-tahun itu, dalam satu minggu setidaknya sekali saya membeli bakso ideran dari Pak Slamet. Pedagang bakso asli Wonosari yang memukul mangkuknya lebih keras setiap melintasi 'lurung' dekat rumah kami. Tau harga semangkuk baksonya berapa saat itu? Rp 150! Sebagai informasi tambahan. Harga semangkuk bakso hanya 65% dari harga sekilo gabah kering giling.

Bagaimana sekarang? Orang yang sekampung dengan almarhum Pak Slamet, menurut seorang teman bernama Acong, menjual semangkuk bakso dengan harga Rp 7.000. Atau ada perubahan (naik) harga sebesar 4.566% dengan 35 tahun silam! Ingat, harga gabah "hanya" naik 1.900% sedangkan semangkuk bakso naik sebesar 4.566%.

Dulu, cukup dari penjualan gabah sebanyak 652 gram, anda sudah dapat menikmati bakso Pak Slamet. Sekarang, perlu 1,5 kg gabah untuk mendapatkan semangkuk bakso. Di kampung yang sama. Kalau anggota keluarganya seperti kami, 4 orang. Dulu memerlukan 2,6kg untuk memperoleh 4 mangkok bakso. Sekarang menjadi seharga 6kg gabah untuk 4 mangkok bakso. Cukup jelas ilustrasinya?

Baca Juga :   Permainan Anak dan Nilai Positif yang Tersembunyi

Masih di tahun yang sama. Bapak membelikan untuk Ibu jenis PS100 tahun pembuatan 1981 seharga 650.000. Saya ingat sekali Bapak membelinya di Toko ABC Yogyakarta. Beliau berterus terang saat saya menanyakan harganya. Tentu gentar mendengar harga sebuah benda senilai itu. Berbinar-binar karena bapak mampu membelinya. Saya belum memikirkan kerepotan mengangsurnya.

Harga kendaraan senilai Rp 650.000 di tahun itu dapat dibeli dengan gabah sebanyak 28,26 kuintal. Sangat mahal sekali di jamannya. Bagaimana kalau kondisinya ditarik ke jaman sekarang, 2017? Karena tidak ada barang yang persis sama. Perlu asumsi untuk menjembataninya.

Kita asumsikan saja Vespa s125 sekelas dengan Ps100 di jamannya. Ada varian murah, Liberty, tapi para penggemar Vespa pasti tau. Produk itu 'generik' Vespa untuk menghadang skutik Jepang. Orang yang paham kualitas tetap akan memilih s125 sebagai 'versi termurahnya'. Saat ini bernilai Rp 31.850.000. Artinya apa? Untuk mendapatkan kendaraan itu saat ini diperlukan 69,23 kuintal!

Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari ilustrasi di atas?

Kembali lagi ke masa SD. Di tahun 1982, sekali waktu kami serombongan kadang mampir beli gembus goreng di warung Mbah Warno. Dengan potongan cukup besar, gembus hangat berselimutkan tepung tersebut dijual dengan harga Rp 10. Sekarang? Rp 500. Terjadi perubahan (naik) sebesar 4.900%.

Harga bakso (+4.566%), Vespa (+4.800%) dan Gembus (+4.900%). Lebih responsif terhadap inflasi. Lebih menyesuaikan dengan konsumen. Harga jual produk tersebut sudah mencermin tingkat inflasi. Beda halnya dengan gabah.

Gembus goreng perubahan harganya paling tinggi. Wajar, ada komponen tepung gandum dan kedelai yang keduanya memang sangat menggantungkan pada impor. Harga dimana pemerintah tidak terlalu reseh turun tangan memang dapat lebih mencerminkan situasi.

Baca Juga :   Menjadi Nasionalis Yang Paripurna

Jadi dapat disimpulkan profesi petani itu sangat rentan. Kebanyakan orang berpikir bahwa masalah selesai cukup dengan subsidi. Padahal, daya beli petani yang terus menunjukkan kecenderungan merosot mempunyai arti bahwa ada yang salah dalam kebijakan. Kalau mau fair, pemerintah harus mengakui itu.

Banyak alih fungsi lahan pertanian untuk peruntukan di luar sektor pertanian. Pertama tentu kita dapat berpikir bahwa usaha tani bukanlah hal yang menguntungkan lagi. Kedua, lagi-lagi soal keberpihakan pemerintah pada sektor pertanian. Di satu sisi mengharapkan peran sektor ini dalam program ketahanan pangan. Di sisi lain upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya mengalami kemandegan.

Ini memang masalah rumit. Kesalahan mendasar sudah dilakukan sejak orde baru. Dalam setiap penyesuaian harga dengan laju inflasi, selalu menjadi pihak paling dikesampingkan. Pemerintah dapat menyesuaikan gaji pegawai, swasta dapat menyesuaikan gaji karyawan, produsen dapat menyesuaikan harga.

Di desa Blunyah, kondisi perekonomian melesat pesat daripada tahun 1982. Jumlah sawah tidak berubah jauh, alih fungsi lahan tidak lebih dari 10ha. Tetapi bukan dari hasil usaha tani padi. Dari usaha atau pekerjaan lain. Kalaupun ada yang sejahtera dari pertanian, hanya ada 2 kemungkinan. Lahannya luas atau mengusahakan usaha tani di luar padi.

Kemudian harga yang pantas untuk gabah berapa sih?

Kita asumsikan saja harga bakso itu 65,2% dari harga gabah. Saya ambil dari tahun 1982, masa dimana petani masih mendapatkan surplus. Jika harga bakso ideran semangkuk Rp 7.000, maka harga gabah kering giling di tahun 2017 seharusnya sekitar Rp 10.700. Kemudian jika nilai gabah hari ini 46% dari harga beras kualitas biasa. Maka harga beras hari ini seharusnya sekitar 23.300.

Baca Juga :   Liga Champion Tak Adil, Real Madrid Selalu Serakah

Untuk harga beras, semua orang sudah tau persoalannya. Harga masih dapat diturunkan. Rantai distribusi yang panjang yang mengakibatkan disparitas harga begitu tinggi. Kenapa tidak bisa memperpendek rantainya? Selalu jawabannya mafia. Lha iya, yang punya sumberdaya melawan mafia itu siapa?

Data dapat ditelusur ke setiap periode pemerintahan. Di periode siapa saja nasib petani semakin terbenam? Ada kebijakan apa saja yang mengganjal kesejahteraan petani? Di beberapa tempat nasib petani dihadapkan pada perusakan lingkungan untuk pemanfaatan lain.

Jadi kalau ada yang mengatakan petani padi itu sekarang tambah sejahtera. Anda tengah menjelaskan pikiran orang lain yang bukan petani. Bisa juga anda tengah menjelaskan pikiran petani yang mengusahakan labu butternut atau petani buah naga. Mereka memang lebih sejahtera. Tapi tidak semua petani punya keleluasaan seperti itu.

Terkait ketahanan pangan. Petani itu penyedia bahan pangan, bukan mesin produksi. Kalau cuma menyediakan sarana produksi murah tapi mencekek hasil panennya dengan harga murah. Belanda juga bisa melakukan itu di periode tanam paksa......

Sperti PT IBU juga tidak dapat kita sebut berhati Santa hanya karena membeli dengan harga lebih tinggi dari Bulog. Mereka juga bagian dari kelompok usaha yang harus diawasi karena melakukan praktek-praktek yang dapat merugikan konsumen secara umum. Tetapi kedogolan utama tetaplah orang yang menjelaskan kepada banyak orang kalau mau sejahtera ya petani padi harus bekerja lebih keras. Sama halnya dengan usulan untuk menanam padi organik hehehe mbel.

dan sudah membuktikan itu.......

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Comments
Ke Atas