Terhubung Dengan Kami

Ruang BP

Manusia Beracun

Racun itu bukan hanya sianida saja, tapi ada lho manusia yang menjadi racun bagi orang disekitarnya.

“Kok aku yang salah? Kamu yang manfaatin aku! Peer-peer kamu, tugas-tugas makalah, itu siapa yang ngerjain? Aku!”

“Aku? Manfaatin kamu??? Inget ya, aku yang nganter-jemput kamu kemana-mana! Sampe aku bolos latian. Sampe aku sering pulang terlambat dan dimarahin bokap-nyokap!”

“Denger ya, aku bisa pergi sendiri, pulang sendiri! Asal kamu juga kerjain sendiri tuh peer dan tugas-tugas kamu!”

Sementara sepasang ABG di hadapan Ibu ini saling tarik urat, Ibu latihan pernapasan dulu pelan-pelan. Satu… dua… “Cukup dramanya!” Keduanya tersentak kaget di kursi masing-masing. “Kalian diam dan hanya bicara kalau Ibu tanya. Kurang puas tadi kalian adu mulut di kantin sampai jadi tontonan satu ?”

Amish dan Raislah. Romeo dan Juliet-nya Sekolah Nongkrong. Amish ganteng, populer sebagai atlit basket dan lahir dari keluarga pengusaha kaya. Raislah cantik, juara kelas dan calon lulusan terbaik, berdarah ningrat karena ayahnya adalah pangeran dari sebuah keraton di pulau Jawa. Kalo nama mereka nyerempet-nyerempet nama pasangan seleb favorit netijen, percayalah… itu hanya kebetulan belaka.

“Maaf, Bu.” Amish buka suara. “Kayaknya percuma deh, kami dipanggil ke sini. Masalah di kantin tadi sudah selesai kok. Kami udah putus, Bu.”

“Selamat, ya. Ibu ikut senang dengernya.” Keduanya bengong. Tapi Ibu terus lanjut ngoceh. “Kalian seneng dong, akhirnya putus dari toxic relationship ini? Gak lagi pacaran sama , ya kan?”

Baca Juga :   Indonesia Darurat Bullying

“Yang Ibu maksud toxic siapa ya, Bu?” Raislah bertanya. “Kalo yang Ibu maksud saya, saya gak terima, Bu… Itu tuduhan serius loh, Bu…” Raislah memandang geram. “Dan iya, saya seneng putus dari ini…” ujar Raislah sinis sambil mendelik ke arah Amish.

“Kalian berdua.” Jawab Ibu cepat. Memotong kalimat Raislah. “Kalian sama toxic-nya. Cuma bawa racun buat hubungan kalian. Buat satu sama lain.”

“Saya juga gak terima loh, Bu, disebut toxic.” Amish sewot. “Ibu kok jahat banget sih? Ibu tanya sendiri sama Raislah deh, saya selalu ngedukung dia dalam hal apapun… saya gak pernah mempengaruhi dia buat yang negatif-negatif, Bu…”

“Kalo gitu sih, aku juga, Bu!” Yang cewek gak mau kalah. Dahi Raislah berkerut dan mukanya masih tampak kesal. “Saya selalu dukung Amish untuk maju…”

“Oke, Ibu minta maaf kalo terdengar seperti menuduh.” Kata Ibu pelan. Masih sambil nyolong-nyolong tarik napas. “Soalnya Ibu dapet kesan kalian itu pacaran ngandelin asas manfaat. Kalian sendiri yang bilang tadi. Amish manfaatin Raislah untuk ngerjain semua tugas dan peernya, sedangkan Raislah manfaatin Amish sebagai supir pribadi. Silakan kalian koreksi kalau Ibu salah…”

Baca Juga :   Galau Tujuh Belasan

Keduanya saling pandang dalam diam. Ibu menunggu, tapi tak satupun kalimat keluar dari dua ini sebagai pembelaan diri.

“Kalo benar kalian saling dukung dalam hal positif, mestinya Raislah bisa membimbing Amish kalo dia kesulitan dengan tugas dan peernya. Bukan mengambil alih ngerjain semuanya. Dan kamu Amish, kamu pikir membiarkan Raislah pergi sampai malam itu bukan hal negatif? Kalian sadar kan kalian masih anak sekolah?”

“Saya pergi sampe malam juga cuma ke mal kok, Bu. Jalan-jalan sama temen. Bukan clubbing atau transaksi narkoba…” Raislah protes.

“Kalian harus tau, toxic people itu bukan hanya mereka yang suka melakukan atau nyebarin aura negatif ke sekelilingnya. Tapi ada juga yang modelnya suka ngerepotin orang lain. Terlalu ngandelin orang. Ngebebanin orang. Memanipulasi orang lain untuk nurutin maunya sendiri. ” kata Ibu masih dengan intonasi se-friendly mungkin supaya gak ada kesan menggurui. Padahal kan Ibu ini guru yah? Emang digaji untuk menggurui kan yah?

“Itu kan namanya take and give, Bu. Dia aja tuh yang pake istilah ‘manfaatin’… ” Amish menuding di sampingnya.

“See? Ibu liat kan, siapa di antara kami berdua yang manusia beracun?” Raislah tak terima. “Jelas-jelas dia udah salah, eeh malah nyalahin orang lain..”

“Raislah benar, Amish. Toxic people itu gak pernah keabisan akal buat menghindar dari kesalahannya. Salah satunya, yaaa dengan nyalahin orang lain. Apa tuh bahasa gaulnya? Ngeles yah?”

Baca Juga :   Psikologi Era Digital

“Ooooh, kalo itu Amish emang paling jago, Bu…” ujar Raislah sambil nyengir. Ekspresi Amish seakan siap menelan Raislah bulat-bulat.

“Ah, kamu juga sama, Raislah. Udahlah, kalian kan udah putus. Buat apa lagi maen salah-salahan? Kalo menurut Ibu, yaa kalian berdua sama-sama salah. Itu berdasarkan keterangan kalian sendiri loh. Dan saksi-saksi yang nontonin kalian berantem di kantin. Mengganggu ketertiban umum, tau gak?”

“Jadi kami bakal kena hukuman, Bu?” tanya Amish.

“Iya dong. Dan juga hukuman atas masalah tugas dan peer-peer tadi. Pokoknya kalian berdua sama-sama salah. Ibu akan bicarakan ini sama wali kelas kalian masing-masing. Anggap aja hukuman ini sebagai proses detoks kalian untuk lepas dari racun-racun akibat gaya pacaran kalian yang gak sehat itu…”

“Hukumannya apa, Bu?”

“Gak papa deh, Bu, kami dihukum. Tapi jangan kasi tau orangtua ya, Bu? Pliiissss, Bu…”

Selanjutnya Ibu gak dengerin lagi itu anak dua ngomong apa. Yang Ibu pikirin Ibu harus bikin materi ajar tentang gimana mengidentifikasi dan cara-cara menghadapi manusia beracun. Tapi ini kan di luar kurikulum sekolah… Hmmm, kira-kira Pak Kepsek ngijinin gak yah?

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ibu Guru BP

Menjadi guru BP adalah cita - citanya yang didorong oleh jiwa kepo yang teramat akut. Tapi, untunglah dia dibekali oleh hati yang baik dan tulus. Dia senantiasa berusaha membantu memecahkan masalah anak jaman sekarang, meskipun hanya bermodal tas make-up yang selalu dibawa kemana - mana.

Comments
Ke Atas