Terhubung Dengan Kami

Murid-Murid Yang Diingat Para Guru

Kone

Murid-Murid Yang Diingat Para Guru

Guru adalah pahlawan yang benar-benar tanpa tanda jasa. Karena guru belum bisa dihargai jasanya. Cobalah tengok di sekeliling kita, guru mana yang hidupnya sejahtera? Jika ada, guru itu pastilah sejahtera karena profesi lain, bukan karena profesinya sebagai guru.

Siang itu, nyai sedang membeli rujak di warung langganan depan lapangan sepak bola. Suasana di lapangan tampak ramai sekali. Terlihat bapak – bapak juga ibu – ibu berpakaian seragam . Usut punya usut ternyata di lapangan sedang berlangsung upacara peringatan Hari . Dengan santainya nyai duduk dan memesan sepiring rujak mangga pedas dan segelas es susu segar.

Sesuap penuh rujak mangga muda pedas hampir saja mendarat ke dalam mulut nyai. Tapi tiba – tiba ada yang menepuk pundak nyai dengan lembut.

“Sekar?," seorang ibu berpakaian PGRI lengkap dengan topi tersenyum dan menunjuk nyai dengan antusias. Rujak pun tergeletak pasrah kembali ke atas piring. Nyai membuka laci ingatan, mengcapture wajah sang ibu lalu mencari data valid dalam ingatan nyai.

“Ibu Jepun? Guru ?," aha.. nyai menarik satu berkas yang cocok. Ibu Jepun adalah guru nyai saat SMP dulu, guru . Ternyata dia masih mengingat nyai dengan baik padahal kami sudah tidak pernah bertemu hampir 14 tahun. Ibu Jepun duduk di depan nyai. Beliau pun memesan sepiring rujak dan minuman yang sama. Tubuhnya masih sedikit gempal seperti dulu, tidak banyak yang berubah.

“Kamu tidak banyak berubah ya, Sekar. Masih cuek dan cantik seperti dulu. Bedanya sekarang, kamu tidak usah remidi matematika lagi kan?," Ibu Jepun tertawa lepas begitu pula nyai. Bahkan Ibu Jepun masih mengingat dengan baik, kalau nyai selalu harus mengikuti remedial Matematika karena nilai – nilai nyai teramat sangat mengkhawatirkan.

Baca Juga :   Nggak Bisa Matematika Bukan Berarti Bodoh

Matematika memang bukan nyai banget. Setiap pelajaran matematika perut nyai pasti tiba – tiba menjadi mules. Sampai bisa mendadak muncul roda yang berputar – putar cepat di kepala membuat pusing dan mual. Ibu Jepunlah yang dengan sabar menenangkan dan mengajarkan nyai berulang – ulang yang pada akhirnya nyai tetap ikut remedial Matematika.

Tidak heran seorang guru mampu mengingat – muridnya walaupun mereka sudah mengajar ratusan bahkan ribuan bertahun – tahun. Namun, tidak semua yang mereka ingat. dengan karakter tertentu biasanya betah nemplok – menempel di kepala sang guru hingga berpuluh tahun ke depan. Contohnya, yang setia mengikuti remedial di setiap ulangan. Baik itu ulangan harian, ulangan tengah semester apalagi ulangan akhir semester. Alasannya sederhana, karena seringnya bertemu dan berbincang dengan tersebut. paling pintar, paling bandel, paling rajin, paling malas, dan paling norak juga masuk daftar yang tak lekang oleh waktu di ingatan para guru.

Baca Juga :   Belajar Ikhlas

Nyai kali ini tidak menerawang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan nyai. Nyai langsung bertanya pada sumber pasti, Bu Jepun. Perihal apa yang terjadi pada murid – murid yang menjadi primadona di ingatan guru. Baik murid yang diingat dalam hal positif maupun negatif. Menurut Ibu Jepun, murid – murid tersebut mendapatkan porsi yang lebih besar dalam pembicaraan guru – guru di waktu senggang mereka. Eiiits jangan negatif dulu. Para murid spesial tersebut juga mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk surga. Why? Mengapa? Karena merekalah yang paling sering disebut dalam doa sang guru. Doa – doa tulus agar siswanya yang pintar dan rajin bisa mempertahankan prestasi mereka dan tetap menjadi pribadi yang rendah hati, tidak sombong, serta menggunakan pengetahuan mereka dengan baik. Pujaan – pujaan kepada sang pencipta dilantunkan sang guru agar para siswanya yang kurang dalam hal akademis dan lebih senang melanggar peraturan mampu mengukir nama mereka dalam prestasi di bidang yang mereka sukai.

Nyai merasa sedih sekaligus gembira. Agak lebay memang, tapi yah begitulah. Nyai sangat ingat dulu, teman – teman nyai sering mengolok – olok guru yang mereka tidak suka. Menyebut guru – guru mereka dengan sebutan – sebutan yang mereka buat sendiri. Terutama murid yang senang mencari perhatian dengan melanggar peraturan. Helooooo murid jaman now, guru – guru kalian tahu lho apa yang kalian gosipkan di belakang mereka. Ya memang benar, para guru tersebut tahu. Mungkin saking lamanya menjadi guru dan sudah hafal tingkah polah siswanya.

Baca Juga :   Duduk Di Depan Pintu Bisa Ditabrak Setan

Tiba – tiba mata nyai jadi perih. Ahh.. guruku, saat murid – muridmu masih di bawah bimbinganmu. Mereka seringnya merasa kau terlalu cerewet, pengatur, dan seenaknya. Hanya saat kami sudah menuntaskan pendidikan, barulah menyadari apa yang kau lakukan hanya untuk mempersiapkan kami menghadapi realita dunia yang begitu kejam. Karena jalannya kehidupan pada kenyataannya tidak seromantis drama korea, tidak selalu happily ever after seperti dalam cerita dongeng klasik.

Nyai bangkit, rujak dan es susu telah tandas. Berpamitan dan mencium tangan Ibu Jepun yang masih asyik mengobrol bersama teman sejawatnya. Bu Jepun mencium pipi nyai lalu berbisik, “Lakukanlah semua dengan hati ya, Sekar. Kita semua adalah guru kehidupan. Mengajarkan segala hal berbeda. Kamu sudah mengajarkan kesabaran pada ibu. Terima kasih, Sekar," pesannya. Tak terasa air mata nyai menetes saat berjalan menjauhi warung itu.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Nyai Sekar

Nyai Sekar adalah emak-emak yang akan selalu menjelaskan banyak peristiwa di sekitar kita sesuai dengan takaran. Tidak kurang, tidak pula lebih melainkan sesuai dengan takarannya. Untuk itulah Nyai Sekar itu ada, agar semua sesuai dengan takarannya.

Comments
Ke Atas