Terhubung Dengan Kami

Musik bicara tentang karya, bukan finansial apalagi terkenal

Musik

Musik bicara tentang karya, bukan finansial apalagi terkenal

Awalnya musisi didefinisikan sebagai orang yang bermain musik, entah sejak kapan musisi di definisikan sebagai orang yang terkenal.

Hai calon - calon yang masih kurang refrensi untuk bermusik. Perkenalkan nama gue adalah Teropong Senja, penunggu rubrik yang baru. Gue yang akan membimbing kalian (ciee membimbing, cem kuliahan aja isi bimbingan) untuk menjadi idealis tanpa pesimis. Yakinlah kalau kalian akan menjadi bintang yang cemerlang jika kalian mendengarkan petuah dari gue yang juga sedang mencari kecemerlangan itu.

Bicara soal musik itu tak akan pernah ada kata habisnya, serta cakupannya sangat luas, seluas cintaku padanya (padanya ini bukan pacar, wong gue saat ini jomblo, kalau tak percaya tanya aja Pemrednya). Ok kita persempit lagi, kita ngomongin sebuah karya terutama bagi pendatang baru ataupun mereka yang mau mencoba peruntungan di industri musik.

Gue beberapa kali sempat melakukan survey sederhana ketika sedang di pantai, cafe atau dimanapun sekiranya menemukan kawula muda yang suka atau bahkan sudah memiliki keinginan menjadi seorang musisi. Dalam survey tersebut, gue menanyakan tentang motivasi apa yang mendasari mereka untuk terjun ke industri musik.

Jawabannya cukup membuat gue menjadi setengah galau, ya jelaslah gue bingung, seorang musisi target utamanya adalah ingin dan bukan sebaliknya menunjukkan karya serta konsistensinya. Jadi dalam survey tersebut sebanyak 94% mengatakan targetnya adalah ingin ,  sisanya dengan jawaban berbeda - beda.

Baca Juga :   Baleganjur: Pasukan yang Sedang Berjalan

Jadi begini guys, gue rangkum ya dari berbagai sumber termasuk dari para musisi ternama dan pemerhati, mereka mengungkapkan untuk memulai terjun ke industri musik itu yang pertama di perhatikan adalah kematangan sebuah karya dan sisanya akan ditemukan seiring konsistensi dan keseriusan mereka dalam bermusik.

Buktinya cukup banyak kok, jika kalian memperhatikan musisi , banyak yang memulainya dengan sebuah single lalu terkenal dan tenggelam, artis nasional juga banyak, ngeluarin satu album yang terkenal cuma satu lagu, beberapa bulan kemudian tenggelam bak lagunya NTRL, Terbang dan tenggelam.

Coba kalian perhatikan lagunya bung Iwan Fals, Ebiet G AD, atau Slank kenapa karya mereka bisa enak didengar dan "melegenda" ? Dari hasil perenungan gue yang mendalam, mereka memproduksi satu buah lagu itu lebih dari sebulan meski tak dipungkiri karya mereka dibuat hanya hitungan menit.

Kalian seharusnya memperhatikan kualiatas dulu dalam bermusik seperti pemilihan kata terus keindahan nada, serta yang lainnya.

Jika boleh gue bandingkan kualiatas musik saat ini dengan dulu sangat - sangat berbeda. Padahal dulu itu alat untuk recordingnya pun sangat sederhana. Tapi lah kok di era milenial seperti sekarang ini, yang notabene semua sudah dipermudah kenapa justru terkesan mengabaikan kualitas bahkan terkesan mengutamakan kuantitasnya?.

Baca Juga :   Via Vallen Dalam Jeritan Hati Supir Truk

Gue juga mengingatkan, ketika kalian mau menciptakan sebuah musik hindarilah menjadi seorang plagiat. Memang membuat yang original itu kesannya susah namun jika kalian mampu menerapkan system ATM alias Amati Tiru dan modifikasi pasti unsur plagiat kecil kemungkinan terjadi. Tak pelu gue kasi contoh kalian pasti tau mana yang plagiat dan mana yang enggak.

Jadi seorang musisi itu tidak gampang guys, perlu pejuangan apalagi kalian merupakan sebuah group band, menyatukan visi ketika baru membentuk dan sudah berjalan itu akan sangat susah. Terlebih kalian sudah mampu meraup pundi-pundi rupiah atau bahkan dollar.

Oh ya satu lagi, ada hal yang membuat gue menjadi gregetan saat melakukan survey tersebut. Dimana beberapa calon band atau solois mengatakan sangat menginginkan untuk digandeng oleh suatu label. Ahhh jadi makin ogah mendengarnya, begini guys kalian kira ketika ada label yang menggandeng akan meringankan kalian dalam produksi? Kalian keliru guys, sekedar informasi ya, band asal kota Gudeg dan Pulau Dewata Bali justru memilih kembali kejalur independent ketimbang melanjutkan kontrak dengan label, why?

Baca Juga :   Merindukan Musik Anak Indonesia

Pertama, Dari sisi kalian berkarya akan dipangkas, itu pihak label atau produser orientasinya adalah bisnis jadi apapun kehendak pasar maka itu yang diutamakan, semisal pasar sedang menggandrungi tema cinta, ya kalian akan “dipaksa” untuk mengikuti keinginan pasar.

Kedua, Ketika kalian bergerak dijalur , kalian bisa menjalankan sisi idealisme dan tentunya darisinilah kalian akan menemukan fans fanatik kalian, sebagai gambaran adalah band "aliran bawah tanah" dimanapun mereka ngadain acara pasti ramai, kapanpun mereka mengeluarkan album pasti laku.

Jadi, jika kalian tujuannya ingin terkenal dalam bermusik nikmati prosesnya, tunjukkan karya yang berkualitas, buktikan konsistensi kalian maka semua akan berjalan. Jadilah diri kalian sendiri, jangan terlalu mengikuti arus karena sekali saja kalian terseret, kalian akan menemukan dua kemungkinan, kemungkinan terkenal atau kemungkinan tenggelam.

Jadi selamat menentukan pilihan ya guys.

Hemmm.....  Ya udah segitu dulu, semoga bisa dipahami, ini sudah malam gue mau melanjutkan tugas dulu, nanti kita lanjutkan lagi.

Ingat Sekali lagi, hargai prosesnya tunjukkan kwalitasnya maka apa yang kalian inginkan "astungkara" akan dikabulkan.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Teropong Senja

Pagiku adalah sang malam, setiap senja selalu memberi sebuah cerita dalam tiap nadiku, jangan tanya pendidikan terakhirku, cukup baca tulisanku dan tak usah mencari tau siapa diriku karena nanti kau akan tau...

Comments
Ke Atas