Terhubung Dengan Kami

Naluri BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita)

Ruang BP

Naluri BPJS (Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita)

Menjadi sosialita itu mudah, yang susah itu mengumpulkan modalnya.

“Apaaaa??? Kamu udah gila ya?! Buat beli tiket konser Ed Sheeran?! Jadi menurut kamu, itu konser lebih penting daripada ??? Mama dan papa kerja banting tulang buat bayar kamu, tau gak??? Bikin malu kamu!”

Bintang, siswi kelas XII Sekolah Nongkrong, cuma bisa duduk terdiam di Ruang B.P saat sang bunda melampiaskan kekesalan karena anaknya menghabiskan bayaran sekolah 2 bulan sekaligus untuk beli tiket konser. Dan ini bukan kejadian yang pertama.

“Bu, saya udah nyerah ngurusin ini . Terserah Ibu deh mau diapain.” Sekarang mamanya Bintang bicara sama Ibu sebagai ‘nyonya rumah’.

“Ibu tau kan? Anak saya ini . Budget Pas-Pasan Jiwa . Mirip kayak pasangan yang ketangkep gara-gara nilep uang umroh ribuan orang itu…”

Ibu sempet keselek menahan tawa mendengar istilah ‘BPJS’ mamanya Bintang. Tapi Ibu langsung buru-buru pasang muka sok kalem sok bijak. “Saya paham kecemasan Ibu. Saat ini sekolah hanya meminta Bintang melunasi bayarannya dulu. Soal hukuman buat…”

“Masalah uang bayaran saya bisa selesaikan hari ini, Bu.” Mamanya Bintang langsung memotong omongan Ibu. Ibu pun mingkem seketika.

“Tapi kelakuan anak ini gak bisa dibiarkan.” Ujarnya berapi-api.

Baca Juga :   Belajar Ikhlas

"Yang kejadian pertama, Ibu tebak deh uang bayarannya buat apa? Buat beli sepatu yang harganya hampir 2 juta, Bu! Bintang, awas kamu ya, kalo ada yang ketiga kali…” ancam sang mama sambil mendelik serem.

Gemes juga melihat Bintang hanya duduk diam dengan tatapan kosong. “Bintang, kamu gak mau bilang sesuatu sama mama? Hmmm, minta maaf mungkin?” Ibu berusaha mendinginkan suasana.

“Maafin aku ya, Ma… aku janji gak akan ada yang ketiga kalinya.” Bintang menunduk malu.

“Aku pake uang bayaran untuk beli tiket konser soalnya temen-temen yang lain semuanya udah pada beli. Aku kan gak mau, Bu, nantinya cuma ngeliatin foto-foto mereka di IG dan di Path.”

“Not cool, Bintang. Not cool…” sambar mamanya sambil geleng-geleng kepala.

“Kamu pikir Mama-Papa punya keran duit buat memuaskan hasrat pamer kamu di Instagram? Lagian apa gunanya sih? Sekali-sekali kamu pikir dong… Buat ganti uang bayaran yang kamu pake itu Mama harus motong jatah bel…”

“Ibu, Ibu… tenang ya, Bu.” Kali ini Ibu harus mendekat ke mamanya Bintang. Mencegahnya supaya gak makin ‘meledak’ sebelum didengar satu gedung sekolahan. Nah, ini. Satu lagi gak enaknya jadi guru yang bertanggung jawab sama anak di sekolah. Harus terlibat masalah internal keluarga gara-gara ‘darah muda’ si anak.

Baca Juga :   Antara keperawanan dan Cinta

“Saya janji nanti saya akan bicarakan masalah ini dengan Bintang.” kata Ibu mencoba menenangkan.

“Hukumannya sekalian, Bu.” Ujar si mama masih dengan nada tinggi.

“Suruh aja dia hapus semua akun media sosialnya. Itu kan alasannya dia sering pake uang bayaran? Supaya bisa menyalurkan naluri BPJS-nya.”

Bintang menatap mamanya dengan terkejut. Ide menghapus akun ternyata mimpi buruk paling menyeramkan buat remaja, ya?

“Bintang, kamu dengar mamamu, kan?” tanya Ibu dengan pelan. Padahal dalam hati pengen juga ngejitak ini anak.

“Rasanya percuma kalo kita nyalahin temen-temen kamu, atau nyalahin media sosial. Seinget Ibu, Ibu sering ngebahas gimana caranya menghadapi peer pressure. Ya sudah, mungkin kamu lupa. Nanti kita bicarakan lagi.”

“Aku gak mau hapus semua akun medsos aku, Bu.” Kata Bintang memelas. “Tadi aku kan udah janji, Ma… aku…"

“Terus buat apa akun medsos kalo cuma bikin orangtua bangkrut?!” sambar mamanya lagi dengan gaya nyinyir ala tokoh Bu Subangun di era 80-an. Aaahhh, remaja sekarang mana kenal Bu Subangun?

“Bisa-bisa jatuh miskin saya, Bu, kalo hal ini terulang terus.”, kata mamanya Bintang.

Baca Juga :   Psikologi Era Digital

“Iya, Bu. Iya. Saya paham. Tapi saya yakin, setelah keluar dari ruangan ini Bintang pun menyadari kalau kesalahannya bukan hanya berimbas ke bayaran sekolah atau uang jajannya aja. Tapi juga mempengaruhi kondisi keuangan keluarga. Iya kan, Bintang? Sadar kan kesalahan kamu bisa bikin kacau keuangan keluarga?”

“Paham sekarang, Bu. Tadinya aku gak kepikiran sejauh itu…” Bintang menatap mamanya lagi.

“Maafin aku ya, Ma.”

Sang mama menghela napas panjang. Lalu hanya menggumam “Hmmm...” singkat sebagai tanda pemberian maaf.

“Ya sudah, kamu balik lagi ke kelas sana.” Bintang bangun dari duduk. Mencium tangan mamanya dulu sebelum pergi.

Mamanya Bintang yang juga kemudian pamit kembali buka suara, “Eh Bu, di pertemuan orangtua nanti saya mau usulin supaya sekolah punya polisi medsos untuk ngawasin siswa. Ibu dukung usul saya ya, Bu… Supaya kejadian ini gak menimpa orangtua lain, Bu. Kan Ibu juga yang repot…”

Ibu cuma mengeluarkan satu kata menanggapi usulan itu. “Hah?” sambil ngebayangin tugas membosankan melototin medsos siswa satu per satu. Dan mulai berdoa semoga Pak KepSek menolak usulan tersebut.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ibu Guru BP

Menjadi guru BP adalah cita - citanya yang didorong oleh jiwa kepo yang teramat akut. Tapi, untunglah dia dibekali oleh hati yang baik dan tulus. Dia senantiasa berusaha membantu memecahkan masalah anak jaman sekarang, meskipun hanya bermodal tas make-up yang selalu dibawa kemana - mana.

Comments
Ke Atas