Terhubung Dengan Kami

Nggak Bisa Matematika Bukan Berarti Bodoh

Kone

Nggak Bisa Matematika Bukan Berarti Bodoh

Jika yang namanya cerdas itu adalah kemampuan melompat, tentu kodoklah yang paling cerdas. Tapi jika kecerdasan itu adalah kemampuan berenang dan menyelam, tentu ikan yang paling cerdas. Tapi yang namanya kecerdasan bukanlah begitu adanya.

Emak – emak biasanya hobi ngerumpi dimanapun kapanpun. Terutama emak – emak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan jurus seribu bayangan. Nyai sendiripun yang sudah emak – emak masih terheran dan terbengong melihat kedahsyatan – emak. Kekuatan mereka seperti tiada habisnya. Membereskan rumah, memasak, juga mengantar jemput di . Nyai sendiri adalah wanita karier yang sibuk, jadi jarang sempat mengantar anak nyai yang masih TK ke .

Kebetulan minggu lalu nyai akhirnya berkesempatan untuk mengantar dan menunggui anak di sekolah. Ternyata sudah banyak emak – emak di sana yang juga mengantar dan menunggu anak mereka. Jujur, nyai agak kikuk berada di tengah – tengah mereka. Maklumlah, umur nyai masih lebih muda dari mereka. Bisa dibilang nyai itu macan ternak alias mama cantik antar anak. Aiihhh.. boleh lah ya memuji diri sendiri. Daripada tidak ada yang memuji. 

Emak – emak itu terlihat begitu akrab satu sama lain, tidak heran juga sih ya karena mereka bertemu setiap hari. Obrolan mereka tidak jauh – jauh dari membicarakan anak mereka dengan segala kelebihannya. Iseng – iseng nyai mendekati mereka dan bergabung. Ternyata mereka sedang membicarakan salah satu anak (yang ibunya sedang tidak ikut nimbrung). Anak itu konon, tidak bisa berhitung dengan baik dan menjadi peringkat paling bontot di kelasnya. Salah satu emak berambut pirang nyeletuk dengan tingkat kenyinyiran level 5.

 “Kok bisa ya tidak bisa berhitung, kalau anakku sudah bisa perkalian lho padahal baru kelas satu. Hihihi.. pantesan aja ga dapat rangking.” 

Tentu saja emak – emak lain menimpali dengan level kenyinyiran berbeda yang intinya anak pintar adalah anak yang mampu berhitung dan menghapal dengan baik sehingga mendapatkan peringkat atau menjadi juara kelas. Saat – saat itu kerutan di dahi nyai sepertinya bertambah secara signifikan karena kebanyakan menautkan alis dan mengernyit. Emak – emak seperti ini harusnya lebih banyak membaca tabloid tumbuh kembang anak atau browsing tentang anak – anak dengan beragam prestasi. Kenapa? Karena anggapan anak pintar hanyalah anak yang mampu berhitung dan menghapal dengan baik dan anak – anak yang selalu mendapat nilai rendah secara akademis adalah anak bodoh adalah . Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak dilahirkan dengan keunikan dan potensinya masing – masing. Nyai percaya anak – anak mempunyai sendiri – sendiri dan tidak sama satu dengan yang lain. Emak – emak itu pasti tidak kenal dan .  

Kata Bapak Gardner, anak yang pandai berhitung merupakan anak yang kecerdasan logis matematisnya lebih menonjol. Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan anak untuk memahami persoalan dan memecahkan teori sederhana yang berkaitan dengan angka. Biasanya mereka mampu mengelompokkan benda sesuai dengan ukuran juga bentuk dan jumlahnya. 

Anak nyai lebih senang bercerita dan sudah bisa berkomunikasi dengan baik sejak umur 3 tahun. Anak – anak seperti anak nyai mempunyai kecerdasan verbal linguistik yang baik - kemampuan yang berhubungan dengan membaca, menulis, dan berkomunikasi. Anak dapat berbicara dan menceritakan suatu kejadian yang dilihatnya dengan mudah, terangkai dengan baik dan kronologis kejadian tidak melompat - lompat. 

Melompat – lompat dan berlarian kesana kemari memang menjadi hal yang natural dilakukan anak. Mereka menyukai kegiatan yang berhubungan dengan tubuh dan gerak, karena anak mempunyai kecerdasan tubuh. Tubuh adalah kemampuan untuk menggunakan kecekatan tubuh untuk mengatasi masalah dan menghasilkan suatu produk. Anak memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan tubuh, misalkan gerakan tubuh saat berdoa, menggambar, melompat, berlari dan olahraga yang menggerakkan tubuh serta menari, senam dan sebagainya.

Selain itu, ada juga yang namanya Kecerdasan yakni kemampuan membayangkan suatu hasil akhir, berpikir secara sistematis. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan memahami pandang ruang. Yakni anak mampu membedakan posisi dan letak serta membayangkan ruang, Di kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang dan samping. Anak – anak dengan kecerdasan spasial ruang cenderung memiliki kemampuan menggambar yang sangat bagus karena mereka bisa mengingat dengan jelas detail benda, tempat atau ruang yang pernah dilihat.

Bisa bermain musik dan bernyanyi juga salah satu kecerdasan yang dimiliki anak lho. Anak – anak lebih mudah mengingat sesuatu jika disampaikan dengan cara dilagukan. Di sekolah, anak – anak bisa dengan sangat mudah mengerti pelajaran yang disampaikan ketika guru menyanyikan lagu tentang materi tersebut. Apalagi jika mereka bernyanyi sambil menari. 

Emejing sekali kan – anak yang seringnya kurang diperhatikan oleh emak – emak yang hanya fokus pada nilai akademis.  Heits.. tunggu dulu, bukan hanya itu, menurut Gardner, anak – anak juga mempunyai kecerdasan interpersonal yang berhubungan dengan kemampuan anak bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Juga, kecerdasan intrapersonal yang mempengaruhi tingkat emosional dan perasaan anak – anak.  Dua jenis kecerdasan ini sesungguhnya berperan sangat penting dan mendasar untuk perkembangan kecerdasan lain pada anak. Setiap anak memiliki semua kecerdasan tersebut dalam diri mereka, namun hanya satu atau beberapa saja yang berkembang dengan lebih baik daripada yang lainnya.

Obrolan masih sangat seru di antara emak – emak tentang anak siapa yang paling pintar. Nyai hanya bisa menghela napas dan mengingat – ingat kecerdasan – kecerdasan yang dimiliki anak. Mitos tentang anak pintar yang hanya menguasai hanya nyai pidatokan dalam hati. Walaupun nyai juga termasuk emak – emak, rada serem juga sama the power of emak – emak nyinyir. Nyai takut nanti dikeroyok.

Mudah – mudahan saja pencerahan datang dari segala arah agar anak – anak mereka nantinya bisa berkembang sesuai potensi yang mereka miliki. Setiap anak unik dan berbeda. Dengan mengetahui kecerdasan mana yang lebih menonjol, orang tua dapat membantu anak meraih impian dan cita – cita mereka. Memaksakan anak – anak pintar dalam segala hal tidak jauh berbeda dengan mencoba mengajarkan ikan memanjat pohon lho ya. Mustahil bin ajaib dan membunuh anak perlahan tapi pasti.

Baca Juga :   Misteri Hilangnya Jam Tangan
Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Nyai Sekar

Nyai Sekar adalah emak-emak yang akan selalu menjelaskan banyak peristiwa di sekitar kita sesuai dengan takaran. Tidak kurang, tidak pula lebih melainkan sesuai dengan takarannya. Untuk itulah Nyai Sekar itu ada, agar semua sesuai dengan takarannya.

Comments
Ke Atas