Terhubung Dengan Kami

Perokok Dalam Kerangka Pancasila

SerSan

Perokok Dalam Kerangka Pancasila

Sesungguhnya merokok adalah hak segala bangsa, karena didasari oleh keinginan luhur untuk menciptakan perdamaian dunia. Maka merokoklah.

Mumpung masih bulan , saya hendak mencurahkan kegelisahan saya seputar perendahan martabat terhadap para yang terjadi akhir – akhir ini. Ada banyak diskriminasi dalam ruang publik terhadap kami para .

Salah satu diskriminasi yang bisa saya ungkapkan disini adalah pemisahan ruangan antara ruangan yang boleh merokok dan ruangan yang tidak boleh merokok. Coba saja bandingkan kedua ruangan tersebut, sungguh berbeda 180 derajat. Ruangan para perokok adalah ruanga terbuka, panas, dan penuh dengan polusi asap kendaraan. Padahal kami merokok untuk menghirup asap , bukan asap kenalpot. Coba saja bandingkan dengan ruangan bebas . Sejuk, dingin, musik yang menenangkan, dan satu lagi yang bikin ngiler, sofa yang empuk yang khusus disediakan oleh pengunjung yang bukan perokok.

Diskriminasi jenis ini tidak hanya terjadi pada satu tempat, tapi sudah menjamur ke banyak tempat. Bukan saja di , melainkan sudah mewabah ke seluruh dunia. Saya menangkap fenomena ini sebagai konspirasi global yang dilakukan oleh industri makanan melawan industri rokok. Padahal kalau mereka mencerna secara lebih logis, kami para perokok adalah makhluk yang penuh keadilan. Kami secara adil mengkonsumsi keduanya tanpa membedakan antara makanan dan rokok. Seharusnya kami-lah kelompok yang di lindungi karena kami tidak berpotensi merugikan salah satunya.

Sebagai sebuah potensi, kami bisa berbangga hati karena jumlah kami tidaklah sedikit. Data terbaru dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunjukkan bahwa jumlah perokok di Indonesia menempati rating ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India. Jumlah penduduk Indonesia yang merokok mencapai 35 persen dari total penduduknya, atau sekitar 75 juta jiwa.

Baca Juga :   Tempat Istimewa di Neraka

Bayangkan jika suatu hari kami sebagai perokok merasa gerah dan mendirikan ormas yang bernama Front Perokok Indonesia, tidak ada yang bisa menandingi jumlah kami kecuali NU. Kami akan menjelma menjadi organisasi terbesar kedua di Indonesia. Mungkin slogan kami saat itu akan menjadi “perokok bersatu, tak bisa dikalahkan, kami ada dan akan selalu berlipat ganda”.

Kami para perokok adalah orang – orang patriotik yang rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan setiap tahunnya alokasi anggaran rumah tangga miskin nomor dua adalah untuk membeli rokok, yakni 12,4 persen. Persentase tersebut masih jauh di atas alokasi untuk kebutuhan lauk pauk dan pendidikan. Biaya konsumsi rokok sebesar 4,4 kali lipat dari biaya pendidikan, dan 3,3 kali lipat dari biaya kesehatan. Data itu menunjukkan nilai patriotis yang ada dalam darah kami. Kami rela untuk mengurangi gizi dan pendidikan kami, demi cukai rokok yang kami bayarkan untuk negara.

Berbicara mengenai Pancasila, kami para perokok adalah orang – orang yang paling Pancasilais. Ketika kalian hanya mampu beretorika tentang Pancasila, kami sudah menerapkan pancasila pada kehidupan sehari – hari kami. Mungkin banyak yang menganggap ini sebagai pepesan kosong, tapi setelah kalian membaca penjelasan ini, saya yakin kalian akan berubah pikiran dengan sepenuhnya.

Baca Juga :   Durian Yang Radikal; Mengakali Jarak Antara Lover dan Hater

Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kami para perokok adalah manusia yang paling percaya pada Tuhan. Kami menyerahkan segalanya ke hadapan Tuhan. Kami tidak pernah percaya akan penyakit dan kematian karena rokok. Yang kami percayai adalah penyakit dan kematian datangnya dari Tuhan. Kami menyerahkan sepenuhnya semua itu kepada Tuhan. Bukankah orang – orang yang merasa agamis selalu menceramahkan bahwa kelahiran, sakit, hidup dan kematian adalah misteri Tuhan? Lalu kenapa percaya penyakit dan kematian karena rokok? Bukankah ini namanya mengingkari agama sendiri?.

Sila Kedua: Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Kurang adil apa kami, bahkan asap yang harusnya kami nikmati sendiri kami bagi dengan sukarela dengan siapapun tanpa memandang identitas orang – orang tersebut. Lihatlah kami ketika menikmati rokok, asap rokok tidak kami telan sendiri, melainkan kami bagi – bagikan secara adil kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Kami akan selalu bersatu dimanapun ada smoking room. Ini adalah fakta. Kami tidak pernah membedakan SARA atas siapapun yang berada dalam smoking room tersebut. Bahkan tidak ada pembedaan strata sosial dalam ruangan tersebut. meskipun ruangannya kecil dan pengap, tetap tidak mematahkan semangat kami untuk bersatu dalam kesatuan para perokok.

Baca Juga :   Mudik: Tradisi Lebaran Di Indonesia

Sila Keempat: Kerakyatan Yang Dimpimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusayawaratan Pewakilan. Sila ini seharusnya sudah tidak dipertanyakan lagi, karena faktanya dimanapun ada rapat, baik di tingkat desa hingga rapat lainnya, kami para perokok akan selalu hadir.

Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kami selalu menjunjung tinggi nilai – nilai keadilan sosial, meskipun kami adalah korban diskriminasi. Kami tidak pernah mendiskriminasi orang atas dasar apapun, baik dia perokok maupun bukan, apalagi mendiskriminiasi atas SARA. Kami-lah yang paling keras menolak itu semua.

Sudah terbukti jika para perokok Indonesia adalah perokok yang memiliki jiwa patriotik, menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari – harinya, dan selalu menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Tapi ada satu yang para perokok lupa, sekarang ini Industri rokok besar yang mendominasi pasar rokok di Indonesia sudah bukan milik orang Indonesia, melainkah sudah dimiliki oleh orang asing. Jadi untuk menasbihkan ke afdolan nilai – nilai patriotik dan pancasilais perokok, mari kita serukan untuk merokok Tingwe (linting dewe).

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ady Saputra

Suka kopi, suka nulis, suka musik, suka nonton, suka apa lagi ya? eh lupa, kadang suka membaca, ini kalau ada waktu luangnya.

Comments
Ke Atas