Terhubung Dengan Kami

Sudharnoto Sang Pencipta Mars Pancasila

SerSan

Sudharnoto Sang Pencipta Mars Pancasila

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu, patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu. Pancasila Dasar Negara, rakyat adil makmur sentausa, Pribadi bangsaku, ayo maju maju ayo maju maju, ayo maju maju

Rakyat mana yang tidak tahu lagu diatas. Lagu atau merupakan salah satu lagu wajib nasional. Sejak TK atau SD mungkin sudah diajarkan untuk dapat menyanyikan lagu tersebut. Lagu ini juga biasa dinyanyikan ketika Upacara Bendera setiap hari Senin di seluruh sekolah yang berada di NKRI. Waktu saya masih SD dulu, lagu ini akan meriah dan asyik dinyanyikan ketika masuk pada lirik “ayo maju maju ayo maju maju, ayo maju maju”. Lagu Mars atau Garuda menggambarkan seseorang yang memiliki rasa yang tinggi dan sangat menjungjung tinggi sebagai dasar negara Indonesia, serta percaya bahwa akan mampu membawa nasib bangsa ini menjadi yang lebih baik. Mungkin begitulah sekiranya interpretasi saya.

Mars Pancasila atau Garuda Pancasila diciptakan oleh seorang lelaki bernama pada tahun 1956. Saya akan berusaha memaparkan sedikit tentang , sebatas yang saya ketahui. Beliau lahir di Kendal, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1925. Siapa sangka, sang pencipta lagu wajib ini merupakan seorang lulusan Pendidikan Tingkat Dua di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mungkin karena hobinya terhadap begitu mendalam, ia lebih tekun menggeluti dunia musiknya. Hobi memang bisa mengalahkan semunya. Atau mungkin pada kala itu menjadi dokter gajinya kecil ketimbang bermain . Entahlah. Yang jelas merupakan lulusan Fakultas Kedokteran yang memilih jalur musik untuk hidupnya, bukan dokter.

Baca Juga :   Tempat Istimewa di Neraka

Bersama Orkes Hawaiian Indonesia Muda pimpinan Maladi, ia ikut mengisi acara siaran RRI Sala. Lalu di tahun 1952, Sudharnoto bekerja di RRI Jakarta sebagai kepala seksi musik, serta menjadi pengisi acara tetap Hammond Organ Sudharnoto. Ia juga sempat mendirikan Ansambel Gembira atau kelompok penyanyi Istana bersama dengan para seniman RRI. Mungkin jika pada zaman itu sudah ada TV, Sudharnoto akan sering muncul di siaran TV sebagai bintang tamu.

Sudharnoto kala waktu itu juga bergabung dengan (Lembaga Kesenian Rakyat). itu dibentuk atas inisiasi dari D.N. Aidit, Njoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada 17 Agustus 1950. Organisasi sempat menjadi organisasi seni yang sangat besar. Pada tahun 1963 mengklaim memiliki seratus ribuan anggota dari dua ratus cabang di seluruh Indonesia. Jumlahnya bisa menyaingi massa aksi 212 yang sempat fenomenal itu. Tetapi tak kalah fenomenal. Pengaruh pada tahun 1950an sampai 1960an sangat luas. Tidak hanya dibidang seni modern seperti sastra dan seni rupa, tetapi juga sampai cabang-cabang seni rakyat seperti ketoprak,tari tradisional, pesindenan, pedalangan, dan seni lainnya.

Baca Juga :   Menjadi Nasionalis Yang Paripurna

Dalam berkesenian anggota-anggota LEKRA sangat menjungjung konsep kesenian realisme sosialis. Permasalahan rakyat kecil kerap menjadi benang merah dalam setiap karya mereka. Mereka berjuang menyuarakan kegelisahan sosial yang terjadi saat itu melalui goresan tinta hingga kuas. Tak heran pada kala itu LEKRA mampu menjadi alat propaganda yang begitu masif di masyarakat.

Melihat fenomena positif pada LEKRA, Aidit pun memiliki niat untuk meleburkan LEKRA dan menjadi bagian dari PKI. Tetapi niatan itu ditolak oleh Njoto, karena ditubuh LEKRA sendiri juga bergabung seniman-seniman potensial yang nonkomunis dan bukan anggota partai. Ditakutkan jika LEKRA dijadikan organisasi sayap PKI, seniman-seniman potensial itu akan hengkang. Organisasi LEKRA memiliki Kongres dan Anggaran Dasar sendiri yang menegaskan bahwa tak ada kaitan formal antara LEKRA dengan PKI.

Namun, pasca peristiwa 1965 LEKRA dianggap organisasi sayap PKI oleh rezim Soeharto dan wajib hukumnya dimusnahkan. Anggota-anggota LEKRA pun semuanya di cap PKI. Sehingga mereka pun dikerjar, ditangkap, ditahan, diasingkan, serta dibunuh tanpa pengadilan. Semua ini karena represi Orde Baru tidak berdasarkan hukum melainkan berdasarkan kepentiingan politik. LEKRA dianggap sealiran dengan musuh politik Soeharto dan pendukungnya dan oleh karena itu mesti dihancurkan.

Baca Juga :   Ketupat Membuktikan Penampilan Itu Penting

Sudharnoto sebagai anggota LEKRA pun menjadi korban atas tuduhan sepihak itu. Ia diberhentikan dari RRI Jakarta karena terlibat sebagai anggota LEKRA. Sudharnoto pun ditangkap dan menjadi tahanan politik di Rumah Tahanan Salemba. Lepas dari tahanan, ia menjadi penyalur es Petojo, Jakarta. Pada tahun 1969, ia beralih profesi menjadi sopir taksi serta nyambi menjadi pemain organ di restoran LCC dan kemudian Shangrilla. Sudharnoto meninggal pada 11 Januari 2000 pada umur 74 tahun.

Sungguh ironi, sang maestro pencipta lagu kebangsaan yang selalu kita nyanyikan dengan bangga mendapat perlakuan yang tidak pantas oleh rezim Soeharto. Lagunya digunakan, tetapi sang penciptanya dicampakkan. Sungguh bangsa yang tak mampu menghargai jasa-jasa seseorang yang telah memberikan sumbangsih besar terhadap bangsanya. Hanya karena kepentingan kekuasaan, semuanya terbuta.

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Dewa Marco

Seorang lelaki yang suka merangkai kata-kata dan menjadikannya sebuah sajak, suka menulis, membaca, bermain musik, menyanyi, suka semua deh. Tetapi semua itu bisa berjalan jika ada "Mood" baik saja.

Comments
Ke Atas