Terhubung Dengan Kami

Tempat Istimewa di Neraka

SerSan

Tempat Istimewa di Neraka

Ada tempat istimewa di neraka untuk mereka yang tetap netral di tengah krisis.

Dulu waktu jaman awal-awal munculnya seperti Friendster dan Facebook, gue bisa menghabiskan berjam-jam di depan komputer hanya untuk update status dan nulis/balesin komen. Begitu pula saat Twitter naik daun beberapa tahun kemudian. Bisa tiap jam gue Twitter-an. Jangankan pergi nonton konser atau jalan-jalan ke tempat yang happening, sekedar lagi nyari makan, males mandi dan dimarahin bos pun gue jadiin status. Gak peduli gak ada yang komen. Gak peduli dengan jumlah followers. Pokoknya yang penting nyampah!

Tapi sejak Pemilu 2014, kebiasaan itu langsung hilang. Gue mulai menyadari betapa bisingnya dunia maya. Hmmm, mungkin saat itu gue udah makin tua kali yee? Buat ade-ade pembaca Nongkrong, kakak kasih tau nih. Seiring bertambahnya usia, kerja otak tidak lagi secemerlang di masa muda. Kalian akan kesulitan mempelajari hal baru, menerima sebuah tren baru, termasuk kesulitan mengingat lirik lagu paling update di Youtube (pembaca Nongkrong: Elo doang kali. Otak gue mah brilian).

Oke, balik lagi ke bisingnya dunia maya. Sebagai pengidap Auditory Stress (penyakit langsung stress kalo denger suara gak beraturan alias berisik), akhirnya gue menyerah. Demi kesehatan psikologis, gue hapus akun FB dan nyuekin semua akun Medsos gue. Soalnya yang gue rasain idup jadi gak tenang abis bacain debat yang gak ada abisnya di Medsos. Yaa tau sendiri laaah, kayak apa itu ributnya pas Pilpres 2014. Ngebacain orang-orang berantem di Medsos rasanya seperti terjebak di tengah-tengah dua kubu yang adu mulut. Iye, gue drama. Doamat. Inilah era globalisasi. Di mana kita udah gak lagi bisa menyaring informasi yang pengen kita simak.

Baca Juga :   Perokok Dalam Kerangka Pancasila

Kita bisa pilih orang yang mau kita follow atau orang yang bisa jadi temen di Medsos, Semudah nge-klik add, follow atau unfriend. Tapi kan kita gak bisa nentuin apa yang mau mereka posting (yang akhirnya nongol di timeline kita). Dan yang lebih genggeus lagi, terkadang yang diributin cuma itu-itu aja. Contoh, debat ngasih ucapan selamat natal dan ngerayain Valentine (emoji rolling eyes). Atau debat antara pihak pro-pemerintah dan pro-oposisi (yang kemudian jadi lebih 'semarak' karena yang pro-rejim sebelumnya ikutan nimbrung). Nah kalo yang terakhir ini gue masih rada ‘mau-mau nggak-nggak’ sih. Sama aja kayak keengganan gue nonton pelem-pelemnya Guillermo del Toro yang penuh makhluk-makhluk berlendir menjijikkan, tapi akhirnya gue tonton juga ampe abis karena cerita dan warnanya bagus.

Baca Juga :   Bergembira Dengan Hoax

Dulu sih mikirnya ngikutin debat di medsos untuk mengasah naluri yang kadang-kadang kalah sama emosi. Menyimak debat politik udah jelas nambah wawasan. Jadi agak melek sedikit sama politik dan current affairs. Tapi yaaa itu tadi, syaratnya lo adalah 'tim hore' yang gak attach sama salah satu pihak.

Entah harus disyukuri atau harus disesali, naluri cover both sides itu jadi dominan di otak gue. Akibat dulu mantengin debat di Medsos, sekarang gue jadi terbiasa melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Harus disyukuri karena bikin gue lebih objektif. Tapi harus disesali juga karena ujungnya gue selalu gak pernah bisa memihak. Lo tau kan, quote Dante Alighieri yang terkenal itu? Ituuu loh, "Ada di untuk mereka yang tetap di tengah krisis." (PemRed: Lebay lu! Orang lagi debat dibilang krisis...)

Terus nih, apa gue masih tetep masuk neraka kalo gue tetep netral dengan debat klasik yang sampai sekarang gak ada jawaban pastinya? Duluan mana, telor apa ayam? , kata kerja atau kata benda? Gelas setengah kosong atau setengah isi? Makan bubur, diaduk apa gak? Mi ayam, kuah dipisah atau dicampur? Perdebatan jadul itu kan udah terjadi sebelum Medsos eksis di dunia. Ada ilmuwan yang yakin harus ada telor dulu sebelum jadi ayam, ada juga yang bilang ayam dulu supaya bisa ada telor. Sebagian orang percaya adalah kata kerja karena itu sebuah tindakan, ada juga yang bilang kata benda karena itu sebuah perasaan. Menurut gue semua argumen itu benar.

Baca Juga :   Liga Champion Tak Adil, Real Madrid Selalu Serakah

Kebayang kan? Masalah sereceh itu aja gue gak bisa tegas mengambil sikap. Gimana urusan yang lebih prinsipil coba? Kalo masalah bubur dan mi ayam, emang sesimpel tergantung selera sih. Kubu yang satu gak berhak menyalahkan kubu lain yang punya pendapat beda. Pada gak mau kan, dipaksa makan sesuatu yang lo gak doyan? Termasuk tidak menyalahkan kubu ketiga, yaitu mereka yang gak makan bubur dan gak suka mi ayam. Kayak gue. Yaaah mau netral atau memihak pun, pendosa kayak gue emang pasti masuk neraka sih.

Aaahhh, andai semua hal sesimpel selera makan…

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ika Virgina

Cewek logis paling ribet yang PMS tiap hari dengan selera humor receh.

Comments
Ke Atas