Terhubung Dengan Kami

Wisata Prasejarah di Sangiran

Lepas Penat

Wisata Prasejarah di Sangiran

Gimana rasanya berdiri di atas berhektar-hektar situs purbakala paling terkenal di dunia? Kalo kalian penasaran, silakan datang ke kecamatan Sangiran, kabupaten Sragen di Jawa Tengah.

Sejak tahun 1996, badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan UNESCO udah menetapkan ini sebagai warisan budaya dunia yang dikenal dengan sebutan Early Man Site. Alasannya, di tempat inilah ditemukan belasan ribu fosil peradaban purba yang umurnya antara 300 ribu tahun hingga 1,5 juta tahun.

We-o-we! WOW! Lebih dari 50% fosil manusia purba di dunia, berasal dari Sangiran. Jadi kalo lo pengen tau bentuk asli pithecantropus erectus, meganthropus palaeojavanicus atau homo erectus yang sebelumnya cuma lo liat di buku sejarah, cuuusss buruan main ke sini.

Awalnya, fosil-fosil itu cuma dipamerin di pendopo kelurahan aja. Tapi kemudian koleksinya makin bertambah. Begitu pun orang yang pingin liat temuan sejarah itu. Maka pemerintah, lewat Kementerian Pendidikan & Kebudayaan mendirikan Purbakala Sangiran yang terus menerus diperbaiki supaya bisa jadi tujuan .

Photo: kotawisataindonesia.com

Lima Klaster

Terletak sekitar 17 km dari Solo menuju Purwodadi (2.5 jam dari ), Museum Sangiran terbagi atas 5 klaster yang dinamain sesuai desa tempat klaster tersebut berada.

Baca Juga :   Wisata Kemping ala Anak Pramuka

Jarak antar klaster agak berjauhan memang. Dan sayangnya belum ada sistem transportasi terintegrasi yang memungkinkan pengunjung ngedatengin kelima-limanya.

Klaster utama dan yang paling banyak pengunjungnya adalah Klaster Krikilan yang punya 3 ruang pamer. Di bagian pertama, ada fosil-fosil binatang purba. Berasa lagi di lokasi syuting Jurassic Park deh. Ada gading gajah, fosil buaya, tanduk-tanduk. Ada juga layar yang ngejelasin proses terbentuknya alam semesta, pengetahuan tentang planet-planet yang interaktif, plus diorama yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Tertarik sama teori evolusi Darwin yang kontroversial itu? Bisa juga dipelajari di klaster Krikilan ini.

Selain krikilan, 4 klaster lainnya yaitu Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Ngebung dan Manyarejo yang semuanya menyajikan artefakp jaman .

Photo: worldheritagef13.wordpress.com

Mitos dan Legenda

Cerita Sangiran sebagai ‘harta karun’ dunia arkeologi ternyata gak kalah serunya dengan isi museum. Arkeolog dan peneliti asing memulai penggalian di daerah ini sejak tahun 1883. Yes, lebih dari 100 tahun lalu.

Baca Juga :   Wisata Bukit Lawang : Pesona Orang Utan dan Tepian Sungai

Tahun 1934, Von Koenigswald asal Jerman lah yang beruntung sebagai peneliti pertama yang berhasil nemuin sebuah alat batu yang ditaksir berumur 400 ribu tahun. Koenigswald juga membagi ilmunya ke warga setempat, membuat penduduk Sangiran secara turun-temurun akrab dengan penggalian dan temuan fosil sampai hari ini.

Sebelum kedatangan Koenigswald pun penduduk Sangiran jaman dulu sebenernya udah sering nemuin fosil. Tapi mereka meyakini temuan mereka itu adalah balung buto alias tulang raksasa yang konon menurut legenda tewas gara-gara perang. Mereka juga percaya balung buto punya khasiat magis seperti menyembuhkan penyakit dan jadi jimat untuk kekebalan tubuh. Tapi itu dulu. Seiring perkembangan jaman, mitos dan legenda ini hampir gak terdengar lagi di Sangiran.

Photo: www.vacationbaliindonesia.com

Dilindungi Undang-Undang

Baca Juga :   Mari Ber-ndeso Ria di Desa Tembi

Walau temuan fosil dan artefak prasejarah di Sangiran udah mencapai belasan ribu, tapi pemerintah memprediksi itu baru 30% aja. Artinya masih ada 70% lagi yang terkubur jauh di bawah permukaan tanah Sangiran. Tau dari mana? Soalnya hampir 2 minggu sekali ada warga yang melaporkan temuannya. Tapi gak berarti mereka bisa menggali, menyimpan, atau memperjual-belikan fosil semaunya loh. Status ‘warisan budaya dunia’ bikin Sangiran dilindungi undang-undang. Jadi ada hukuman terhadap penggalian, penyimpanan dan transaksi jual-beli fosil tanpa ijin.

Terus gimana dong, kalo ada warga yang gak sengaja nemuin fosil? Udah disiapkan semacam program apresiasi untuk warga yang melaporkan hasil temuannya. Selain sertifikat, mereka juga bakal menerima uang, dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. Tentu harus lewat berbagai pemeriksaan dan pengecekan ulang. Pingin denger lebih detail lagi tentang cerita di Sangiran? Kenapa gak tanya langsung aja sama penduduknya?

Lanjut Membaca
Advertisement
Anda mungkin juga menyukai …
Ika Virgina

Cewek logis paling ribet yang PMS tiap hari dengan selera humor receh.

Comments
Ke Atas